O, NU!
(Wawancara Imajiner dengan Hadlratusy Syeikh Hasyim Asy'ari )
Oleh: A. Mustofa Bisri

Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari
حضرة الشيخ هشام اسعار الاندونيسي
Inilah kali kedua saya melakukan
wawancara imajiner dengan satu-satunya Rais Akbar NU, Hadlratusy Syeikh
Mohammad Hasyim Asy'ari, setelah tahun 80-an saya mengadakan wawancara
imajiner dengan beliau karena latah dengan 'Wawancara Imajiner'-nya
Christianto Wibisono dengan Bung Karno dan 'Wawancara Imajiner'-nya Gus
Dur dengan Nurcholish Madjid.
Pada waktu 'wawancara' saya terdahulu, saya 'melihat' Hadlratusy Syeikh sedang dikelilingi tokoh-tokoh NU seperti KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Bisri Sansuri, KH Mahfudz Shiddiq, KH A. Wahid Hasyim, dll yang semuanya terlihat murung.

A. Mustofa Bisri
Saya
ingat waktu itu, aku membuka 'wawancara' dengan matur kepada beliau:
"Hadlratusy Syeikh, saya lihat Hadlratusy Syeikh dan sekalian masyayeikh
yang ada di sini begitu murung. Bahkan, di kedua mata Hadlratusy Syeikh
yang teduh, saya melihat air mata yang menggenang. Apakah dalam keadaan
yang damai dan bahagia begini, masih ada sesuatu yang membuat
Hadlratusy Syeikh dan sekalian masyayeikh berprihatin?
Apakah gerangan yang diprihatinkan?"
Dan beliau dengan sareh menjawab, mendahului Kiai A. Wahab Hasbullah
yang kelihatan ingin mewakili menanggapi atur saya: "Cucuku, kau benar.
Kami semua di sini, alhamdulillah, hidup dalam keadaan damai dan
bahagia. Seperti yang kau lihat, kami tak kurang suatu apa. Kalaupun ada
yang memprihatinkan kami, itu justru keadaan kalian. Kami selalu
mengikuti terus apa yang kalian lakukan dengan dan dalam jam'iyah yang
dulu kami dirikan. Kami sebenarnya berharap, setelah kami, jam'iyah ini
akan semakin kompak dan kukuh. Semakin berkembang. Semakin bermanfaat
bagi agama, nusa, dan bangsa. Semakin mendekati cita-citanya. Untuk itu,
kami telah meninggali bekal yang cukup. Ilmu yang lumayan, garis yang
jelas, dan tuntunan yang gamblang."
"Jam'iyah ini dulu kami dirikan untuk mempersatukan ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
dan para pengikutnya; tidak saja dalam rangka memelihara, melestarikan,
mengembangkan, dan mengamalkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama'ah,
tapi juga bagi khidmah kepada bangsa, negara, dan umat manusia."
"Sebenarnya kami sudah bersyukur
bahwa khitthah kami telah berhasil dirumuskan secara jelas dan rinci;
sehingga generasi yang datang belakangan tidak kehilangan jejak para
pendahulunya. Sehingga langkah- langkah perjuangan semakin mantap. Tapi,
kenapa rumusan itu tidak dipelajari dan dihayati secara cermat untuk
diamalkan? Kenapa kemudian malah banyak warga jam'iyah yang kaget,
bahkan seperti lepas kendali? Satu dengan yang lain saling bertengkar
dan saling cerca. Tidak cukup sekadar berbeda pendapat (ikhtilaaf), tapi
sudah ada yang saling membenci (tabaaghudl), saling mendengki
(tahaasud), saling ungkur-ungkuran (tadaabur), bahkan saling memutuskan
hubungan (taqaathu'). Padahal, mereka, satu dengan yang lain,
bersaudara. Sebangsa. Setanah air. Seagama. Seahlissunnahwaljama'ah.
Sejam'iyah."
Waktu itu, sekalian para kiai
yang mengelilingi beliau serentak menggumamkan laa haula walaa quwwata
illa biLlah. Dan kali ini saya 'temui' beliau sendirian dan tampak lebih
murung daripada waktu itu. Awan kesedihan terlihat jelas menyelimuti
wajah beliau yang berwibawa.
Sebenarnya saya agak tak enak
perasaan mengganggu beliau yang sedang tafakkur sendirian. Tapi,
terdorong oleh kegelisahan saya akhir-akhir ini dan keinginan sedikit
mendapat 'air jernih', saya memberanikan
diri. Saya tahu, betapapun tinggi maqam beliau, beliau tak mungkin menolak keluh-kesah cucu muridnya.
Saya : "Assalamu'alaikum, Mbah!"
الشيخ: "Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh!"
Saya: "Nuwun sewu, Mbah;
kepareng matur. Mohon maaf bila saya mengganggu kesendirian Mbah.
Apalagi saya lihat Mbah sedang bersedih. Saya terpaksa, Mbah. Saya tidak
tahan mendengar keluhan banyak kawan
warga NU yang bingung menghadapi situasi di tanah air akhir-akhir ini."
الشيخ: "Tak mengapa
cucuku. Aku tahu kegelisahan kalian. Bukankah dulu sudah pernah aku
katakan kepadamu bahwa aku dan kiai-kiai di sini senantiasa mengikuti
dan memantau apa yang kalian lakukan dalam
meneruskan
perjuangan kami. Justru kesedihanku saat ini karena kegelisahan kalian
juga. Tumpahkanlah keresahanmu kepadaku. Meskipun aku sedang bersedih,
aku selalu mempunyai waktu untuk mengawani dan
menampung keluh kesah pengikutku."
Saya: "Terima kasih,
Mbah. Kami tahu Mbah adalah pemimpin yang sesungguhnya, yang senantiasa
memikirkan umat, yang senantiasa berusaha membantu umat, dan tidak
pernah menambah beban mereka dengan merusuhkan pikiran mereka. Mbah
tidak pernah risi mendengar keluhan pengikut Mbah yang paling kecil
sekalipun. Karena itulah, saya memberanikan diri sowan dan matur
sekarang ini."
الشيخ : Kau tak perlu
terlalu memujiku, cucuku. Bukankah sudah sewajarnya orang yang bertekad
melanjutkan perjuangan pemimpin agungnya, Nabi Muhammad SAW, mengikuti
jejak dan perilakunya? Sekarang, katakanlah apa yang ingin kau katakana!
Tanyakanlah apa yang ingin kau tanyakan!"
Saya: "Matur nuwun, Mbah.
Mungkin, Mbah juga mengikuti perkembangan yang terjadi di tanah air kita
dewasa ini. Untuk pertama kali, bangsa kita mengadakan pemilihan umum
dengan melibatkan rakyat sebagai
pemilik
negara secara langsung. Rakyat yang selama ini selalu dipilihkan,
sekarang ini bebas menggunakan haknya, memilih sendiri pemimpinnya. Dan
untuk pertama kali sejak Orde Baru, orang NU dilibatkan dalam percaturan
kekuasaan di negeri ini. Padahal, sebelumnya selalu hanya di pinggiran.
Mestinya, hal ini merupakan nikmat yang perlu disyukuri terutama oleh
warga NU, tapi mengapa justru terasa sebagai niqmah, malapetaka,
khususnya bagi mereka."
الشيخ: "Astaghfirullah.
Memang menurutku, salah satu krisis -di antara sekian banyak krisis-yang
melanda bangsa kita saat ini adalah krisis syukur. Bangsa kita kurang
atau bahkan tidak tahu bersyukur. Kalian tahu sendiri -sudah menjadi
hafalan dan wiridan para mubaligh- syukur membuahkan tambahan nikmat
dari Allah, sebaliknya kufur, tidak mensyukuri nikmat, bisa menarik azab
yang besar. Aku tidak perlu menerangkan lagi bagaimana seharusnya orang
bersyukur. Tapi, yang perlu ditanyakan terlebih dahulu ialah apakah
kita dapat menyadari dan mengakui adanya nikmat atau tidak. Bagaimana
orang akan bersyukur bila ia tidak menyadari atau tidak mengakui adanya
anugerah dari Allah? Lihatlah apa yang dianugerahkan Tuhan kepada kita?
Kepada bangsa dan negara ini? Kita dianugerahi-Nya kekayaan yang luar
biasa melimpah. Tapi tragisnya, kita justru tergolong negara miskin di
dunia. Banyak utang dan pengekspor babu paling bersemangat. Masya
Allah.
InnaLlaha laa yughayyiru maa biqaumin hattaa yughayyiruu maa
bianfusihim. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nikmat yang Ia
anugerahkan kepada suatu kaum menjadi laknat, sampai kaum itu sendiri
mengubahnya."
Saya : "Bagaimana dengan warga NU?"
الشيخ:
"Ya, kelihatannya sama saja. Ingat waktu kau datang mewawancaraiku
pertama kali dulu. Waktu itu kan sedang panas-panasnya pertikaian kaum
nahdliyiin justru pada saat pemasyarakatan Khitthah Nahdlatul Ulama.
Kami semua yang di sini bersyukur sekali ketika sikap perilaku dan
kiprah perjuangan kami, para pendiri NU, berhasil dirumuskan oleh
generasi penerus. Tapi, kebanyakan warga NU tidak dapat memahami
khitthah itu sebagai nikmat. Tapi, lagi-lagi yang mengemuka kemudian
ialah kepentingan masing-masing. Masing-masing yang berkepentingan
menafsirkan dan menggunakan khitthah NU sekadar bahan untuk mendukung
kepentingannya. Padahal, kepentingan mereka tidak sama seperti kami
dulu. Bahkan, kepentingan-kepentingan mereka saling bertentangan.
Akibatnya, seperti yang kalian rasakan, pertikaian intern."
Saya : "Seperti sekarang ini, ya Mbah?"
الشيخ:
"Ya, seperti sekarang ini. Banyak warga NU yang tidak menyadari bahwa
apa yang mereka peroleh sekarang ini adalah nikmat, anugerah Allah. Coba
pikir, kau tahu sendiri selama ini -lama sekali- NU
seolah-olah
hanya Nunut Urip. Lalu, Tuhan mengangkatnya menjadi faktor yang
diperhitungkan semua pihak justru pada saat negeri ini paling memerlukan
ishlaah. Beberapa tokoh NU bahkan diajak ikut
berkompetisi
dalam perebutan maqam kepemimpinan negara. Tapi, yang terjadi malah
banyak warga dan tokoh NU yang kaget dan bukannya bersyukur. Mereka pada
gedhebagan seperti mabuk gadung. Saling pamer keaslian mereka sebagai
'manusia dunia' yang ngiler melihat 'kue dunia' yang mereka sendiri tahu
-kalau saja tidak lupa- bahwa nikmatnya hanya seklametan. Lalu, saling
berebut di antara sesama. Na'udzu billah!"
Saya : "Sekarang ini, beberapa kiai pun, sadar atau tidak, sudah ikut terlibat."
الشيخ:
"Lho, umumnya kiai itu kan lugu dan tidak terbiasa punya pamrih
duniwai, apalagi sampai oyok-oyokan donya. Tapi kau kan tahu sendiri,
kelemahan kiai justru pada sifatnya yang sakakenan, mudah kasihan, tidak
suka suu-uzzhan, dan ikhlasnya tidak taktis. Kelemahan inilah yang
banyak disalahgunakan oleh 'manusia-manusia dunia' yang ada di
sekelilingnya. Mereka ini tahu kiai; sementara kiai tidak tahu mereka.
Asal mereka mengatakan kepada kiai, misalnya, 'ini demi rakyat, kiai'
atau 'kasihan umat, kiai', maka kiai pun dengan mudah diajak ke
sana-kemari. Namun yang justru lebih bahaya, bila ada orang yang
telanjur disebut kiai ikutan berebut kepentingan duniawi. Karena yang
model begini akan sama dengan 'manusia-manusia dunia' yang dimabukkan
kepentingan hingga lupa kepada kemaslahatan umat. Lupa bahwa di belakang
mereka ada para pengikut yang lebih lugu lagi, yang siap membela imam
untuk merebut apa pun, sesuatu yang mulia atau tidak. Para pengikut yang
sering juga disebut akar rumput itu dewasa ini sudah sedemikian kering,
hingga mudah terbakar. Ini harus disadari oleh semua pemimpin yang
memiliki pengikut."
Saya : "Yang terakhir, Mbah; apa nasihat Mbah kepada kami?"
الشيخ:
"Aku kira nasihat-nasihatku yang sudah aku tinggalkan, baik dalam
Mukaddimah Qanun Asasi maupun risalah-risalahku yang lain, masih relevan
dan itu cukup bagi yang memang memerlukan nasihat.
Apalagi
sudah ada Khitthah NU. Terutama para kiai dan pemimpin NU, aku harap
mau menyempatkan diri membacanya kembali. Berbeda pendapat, berbeda
pilihan, bukan soal, asal masing-masing memiliki kearifan dan
kedewasaan. Maka para kiai dan pemimpinlah yang harus menjaga dengan
kearifan dan kedewasaan mereka, agar para pengikut mereka tidak
menjadikan perbedaan sebagai pemicu pertentangan, apalagi permusuhan.
Perbaiki hubungan kalian dengan Allah, maka insya Allah akan menjadi
baik pula hubungan kalian dengan sesama! Jagalah Indonesia! Jagalah NU!"
Saya : "Terima kasih, Mbah! Sekali lagi, mohon maaf telah mengganggu."